Uni-uni

Langit mendung tapi tidak hujan ketika aku tulis ini, sambil menikmati dinginnya semilir angin dan memandang lepas keluar ruangan "subhanallah, begitu besar berkah dan barokah yang telah Allah buat dalam hidup ini"
kadang muncul, kadang tenggelam mentari pagi ini.

Aku, namaku Kris. Seorang istri dan ibu dari 2 orang anakku,sedang belajar menulis sambil menikmati hidup


Minggu, 26 Juli 2020

All About You

[maaf mau tanya apa face shield nya masih ada? Saya baca postingan di group pasar kota facebook dan ada nomer kontak ini untuk di hubungi]

Beberapa chat WA masuk setelah postinganku menawarkan dagangan di facebook aku unggah. Memang selama masa pandemi ini, aku gunakan waktu luangku selama libur mengajar untuk koreksi tugas online siswa dan juga memproduksi beberapa alat kebutuhan sehari-hari seperti masker, face shield dll secara online sekalian memberikan pekerjaan kepada anak-anak muda yang diberhentikan bekerja oleh perusahan karena keadaan yang sedang susah ini.

[Ada kak.. mau berapa pcs?]

Jawabku, sejenak sedikit terkejut dengan foto profil yang aku lihat.

[Saya mau 2 pcs, bisa tidak kalau malam ini saya ambil? soalnya mau dipake besok]

Tanya calon pembeli itu lagi

[Gimana kalau besok pagi saya antar kak langsung ke alamat? Karena malam ini masih banyak orderan yang harus saya selesaikan]

Jawabku lagi, mencoba mencari alasan menundanya karena aku merasa ingein menemuinya tapi belum siap mengantar padanya atau tepatnya mencari cara bagaimana bisa mempersiapkan diri saat bertemu dengannya, padahal face shield sebenarnya sudah ready banyak di rumah.

[Oke kalau begitu, tolong antar ke alamat ini ya.. jalan Wahid Hasyim no.508 cari nama lucky ya]

Katanya lagi, dan aku tahu benar alamat itu tanpa dia sebutkan.

[Baik, saya catat dan siap antar besok]

Kataku memastikan.

[Terimakasih banyak]

Tutupnya

Aku lihat profil di WA tersebut, aku hapal betul siapa yang chat ini.

Obi.. ya dia Obi. Seseorang yang pernah mengisi hari-hariku, seseorang yang pernah begitu berarti dalam hidupku.
Aku lihat lagi profil WAnya yang tidak dia privasi, tampak mesra.. fotonya sangat mesra berdua dengan seorang wanita cantik berhijab yang pasti wanita itu adalah istrinya.
Ada rasa cemburu dalam hatiku, tapi apalah arti cemburu ini? karena kita saat ini bukan lagi siapa-siapa. Aku adalah aku dan kamu adalah kamu dengan dunia kita masing-masing.

Dia benar-benar tidak tahu bahwa ini nomerku, setelah beberapa kali aku ganti nomer ponsel pasti dia tidak tahu bahwa ini nomer kontakku karena foto profil di WAku adalah nama dan logo usahaku.

Pagi-pagi benar aku sudah siap mandi dan berganti dengan mengenakan baju terbaikku, aku berniat mengantar sendiri face shield yang di pesan oleh Obi. Aku ingin sejenak melihatnya, ingin tahu bagaimana keadaannya saat ini setelah sekian tahun tidak bertemu. Padahal biasanya ada beberapa pegawai yang khusus bertugas mengirim pesanan.

Pasti aku tidak akan kesulitan mencari alamat tersebut, karena dulu aku sering sekali diajak ke rumah itu. Rumah orang tua Obi, masih sama seperti dulu hanya sedikit terlihat berbeda karena halaman rumah yang dulu penuh bunga kini berubah menjadi sebuah garasi mobil.

Aku pencet perlahan bel yang ada di pagar rumah, beberapa saat kemudian keluarlah seorang laki-laki yang usianya kira-kira 5 tahun diatasku.

"Iya.. cari siapa mba?"
Dia bertanya sambil menatapku

"Saya mau mengantar pesanan face shield yang dipesan tadi malam mas"
Jawabku

"Oh.. ya, mari masuk. Semalam adik saya yang memesan untuk ibu dan bulik karena akan ada keperluan kontrol ke rumah sakit"
Jelasnya lagi sambil mempersilahkan aku masuk.

Aahh.. ternyata mas lucky sudah lupa sama aku. Mungkin karena aku berhijab tidak seperti beberapa tahun yang lalu saat aku sering main ke rumah ini.
Aku segera masuk dan menyerahkan pesanan itu.

"Boleh kan dicoba dulu ya mba, barangkali ada yang tidak pas?"
Kata mas lucky yang kemudian memanggil ibunya.

"Oh .. boleh mas.. monggo"
Jawabku lagi.

Sesaat seorang wanita dengan usia sekitar 65 tahun keluar dari dalam rumah
Dia melihatku lekat-lekat kemudian tersenyum dengan senyumannnya yang masih sama ramahnya seperti senyumannya beberapa tahun lalu.

"Oh ini pesanannya ya luck.. umi coba ya?"
Kata wanita itu, sambil mengambil face shield yang dipegang mas lucky dan mencobanya.

"Enak, pas sekali.. terimakasih ya mba? Mba nya buat sendiri?"
Tanya wanita itu lagi.

"Iya bu, buat sendiri ada beberapa pegawai yang membantu"
Jawabku.

Ternyata umi juga sudah lupa sama aku, apakah seberubah ini penampilanku sehingga mereka tak lagi mengenalku???
Entahlah.. aku hanya berpikir dari tadi, dimana Obi? Kenapa dari tadi aku tidak melihatnya disini?? sudahlah, mungkin dia sedang keluar.

"Kalau begitu saya pamit dulu ya mas , ibu.."
Kataku pada mereka.

"Oh ya.. ini uangnya, sekali lagi terimaksih dan maaf sudah merepotkan sampai diantar sendiri"
Kata mas lucky dan menyerahkan beberapa lembar uang pas seharga pesanan itu.

Aku berjalan keluar dari pagar rumah dan mas lucky mengikutiku mungkin sekalian menutup pagar.
Sebelum benar-benar keluar pagar aku menghentikan langkah

"Mas.. Obi dimana ya?"
Tanyaku tiba-tiba

"Oohh.. mba kenal sama adik saya?"
Tanya mas lucky

"Iya mas.. dia teman saya dulu waktu masih SMA dan saya juga dulu sering main kesini"
Jawabku

"Oalah.. iayakah?? Kok saya lupa ya? Biasanya saya hafal dengan teman-teman adik saya" kata mas Lucky sambil sedikit mengernyitkan dahi dan menatap wajahku lekat-lekat untuk memastikan apa dia mengingatku.

"Sepertinya sih..kalau dilihat-lihat mba ini mirip siapa ya? Hehe saya agak lupa-lupa ingat.. oh ya Obi tidak tinggal disini dia sekarang tinggal di daerah tegal besar bersama keluarganya"
Jelas mas lucky

"Kalau begitu salam ya mas buat Obi dari shiny" kataku

"Shiny? Iya.. iya nanti aku sampaikan"

Jawab mas lucky sambil setengah heran mungkin dia tidak pernah mendengar namaku tapi mulai mengingat wajahku.
Akupun segera bergegas pulang sebelum dia benar-benar mengingatku.

**

[Selamat malam kris.. ]
Sebuah chat WA masuk di smartphone ku

Aku sedikit deg degan membacanya

[Iya selamat malam Bie.. ]
Jawabku sambil sedikit gemetar mengetik pesan.

[Kamu tidak bilang kemaren kalau kamu tahu aku yang menghubungimu.. aku baru tahu ini kamu ketika mas lucky yang menyampaikan salam dari Shiny. Mas lucky hampir tidak mengenalmu karena penampilanmu kini sangat jauh berbeda katanya]
Tulisnya agak panjang

Lama aku sedikit terdiam, aku memang sengaja memakai nama Shiny karena itu panggilan sayang Obi padaku dulu.. ketika kita masih sangat dekat, dekat sekali.
Shiny.. katanya baginya aku adalah sinar dalam kehidupannya.. itu dulu dia selalu mengucapkan itu padaku dan aku memakai nama Shiny untuk disampaikan oleh mas lucky padanya memang sengaja untuk berusaha membuka sedikit ruang ingatannya tentang kami, apakah dia sudah lupa?. Ternyata tidak.

[Iya, maaf.. karena aku tidak ingin kamu merasa tidak nyaman dan malah menutup chat dan memblokir nomerku seperti saat kamu meng remove nomer BBM ku dulu 😁]

Jawabku dengan emoticon senyum.

[Ah.. itu sudah berlalu, ngomong-ngomong bagaimana kabarmu? Bisakah kita bertemu?]
Katanya lagi

Aku sedikit terkejut, karena sepertinya dia sekarang berbeda, lebih berani dan to the point. Tidak seperti dulu yang pemalu dan tidak terbuka. Tapi aku bahagia membacanya, aku memang rindu dan ingin bertemu.

Obrolan kami semakin panjang, seolah-olah kami sedang dikembalikan pada masa-masa indah dulu, dia banyak mengingatkanku hal-hal yang pernah kita lakukan bersama. Aku merasa bahagia, ada rasa yang tumbuh kembali setelah sekian lama menghilang.

Kami jadi sama-sama lupa bahwa kami sekarang sudah tidak sendiri lagi.
Ah biarlah, toh sekarang hubuganku sama mas Hendy sedang kurang baik. Dia sudah berkali-kali membuatku kecewa, apa salahnya aku sedikit menikmati bahagia. Pikirku tanpa berpikir panjang bagaimana jika istri Obi tahu dia menghubungiku.

***
"Kris.. kamu benar-benar berbeda sekarang"
Obi menatapku lekat-lekat dan aku tertunduk dan tersipu seperti ABG yang sedang jatuh cinta dan merasa malu-malu.

"Hei.. sejak kapan kamu malu-malu kris?"
Kata Obi sambil tertawa kecil dan mengusap-usap kepalaku dan aku tersenyum sambil mencoba melepaskan tangannya dari kepalaku.
Hmm.. sejak kapan dia berani pegang-pegang begini? Selama kami bersama dulu, Obi bahkan untuk sekedar memandangkupun dia malu-malu, begini amat dia sekarang?. Tapi aku suka entahlah seperti apapun dia aku selalu suka.

"Apa sih.. biasa aja kalee"
Sahutku mengalihkan rasa grogi ini.

"Dimana kris yang dulu? tomboy, rambut pendek disemir merah, suka pake kaos oblong celana jeans ketat dengan beberapa robekan, pemberani, urakan, apa adanya, terbuka dan suka ngambek"
Katanya lagi sambil sedikit meledek.

"Hmm.. bukannya itu yang membuat kita berpisah? Bukannya itu yang membuat keluarga haji Saiful Bahri tidak menerimaku dekat dengan anaknya?"
Sahutku ketus.

"Haha.. sudahlah, lupakan itu. Doakan bapak tenang di alam sana ya?"
Katanya dengan tatapan yang masih sama seperti tatapan 20 tahun yang lalu. Tatapan yang selalu membuatku luluh dan memendam rindu.

"Innalillahi wainnailaihi rojiun.. abah meninggal?"
Tanyaku kaget

"Iya.. abah meninggal saat anakku yang ke 3 berumur 3 bulan"
Jawabnya sedih.

Aku merasanya menyesal mendengarnya, walau itu tetap membuatku teringat bagaimana
 Obi dulu tiba-tiba meninggalkanku dengan alasan keluarganya menolak kehadiranku dalam kehidupannya.
Ya, keluarga terpandang yang masih dalam rumpun keluarga kyai  yang memiliki pondok pesantren besar di kota kami.
Sementara aku hanya keluarga biasa yang hidup dengan penampilan moderen yang tidak berhijab dan berpenampilan layaknya anak-anak muda gaul pada jamannya.
Sehingga keluarganya lebih memilih Fitri sebagai pendamping hidupnya, wanita berpenampilan sholehah anak dari kerabat ibu Obi yang baru keluar dari pondok pesantren.
Hatiku hancur saat itu, rasanya runtuh segala harapan yang sudah aku pautkan padanya. Aku benci Fitri, aku benci keluarga mereka dan aku benci Obi seumur hidupku. Itu yang membuat tekadku bulat untuk pergi jauh dari kota ini agar tidak pernah lagi kudengar kabar tetang Obi dan mencoba menghapus semua kenangan tentang dia.

Akupun melanjutkan kuliah S2 di kota Jogja, hanya pulang ke kota ini ketika lebaran tiba untuk bertemu dengan keluargaku.
Di Jogjalah aku bertemu dengan mas Hendy. Seorang karyawan BUMN yang sudah mapan dan mampu membimbingku serta merubah semua cara hidupku menjadi lebih baik. Sampai akhirnya mas Hendy dipindah tugaskan ke kota ini 3 tahun yang lalu dan memboyongku juga anak-anak sehingga akupun mengajukan mutasi mengajar di kota ini juga.
Kembali ke kota ini memaksaku mengingat kembali semua kenangan tentang Obi, tapi aku berhasil menepisnya sampai akhirnya chat WA Obi mengembalikan lagi semua kenangan tentangnya.
Bersamaan dengan itu, mas Hendy yang begitu baik dan perhatian denganku juga anak-anak tiba-tiba tanpa sengaja beberapa bulan yang lalu aku menemukan chat mesranya dengan wanita lain. Aku kecewa, kecewa sekali mengetahuinya. Apalagi hubungan mereka ternyata sudah sangat jauh dan berlangsung lebih dari 1 tahun. Walaupun mas Hendy berkali-kali meminta maaf tapi hatiku terlanjur terluka dan hubungan kami tidak semakin baik malah semakin dingin setiap harinya. Aku bertahan hanya demi anak-anak juga demi bapak ibu karena aku tidak ingin membuat mereka kecewa.

****
"Ayo dimakan...kok malah ngelamun. Kamu kenapa sih Kris dari tadi diam saja"

Teguran Obi mengejutkanku

"Hmm.. malas nih mau makan, perut rasa udah penuh saja"

Jawabku malas, sambil meletakkan sendok dan garpu yang aku pegang dan menganggurkan sepiring nasi goreng singapure yang sengaja aku pesan di resto Te hila tempat biasa aku dan Obi makan dan bertemu beberapa bulan ini.

"Kamu kenapa sih? Dari tadi aneh saja sikap kamu?"

Tanya Obi dengan wajah sedikit kesal.

"Bi.. mau dibawa kemana hubungan kita ini?..."

Aku tatap wajah Obi lekat-lekat

"Kita jalani dulu apa adanya.. sampai waktu benar-benar memberikan keputusan buat kita"

Jawabnya sambil menggenggam tanganku, mengabaikan beberapa orang yang datang ke resto tempat kami makan ini dan kadang melirik ke arah kami.

"Keputusan apa? Keputusan ketika kamu sudah mulai bosan dan pergi meninggalkan aku?"

Kataku lagi dengan rasa sedikit sesak didada

"Lalu mau kamu apa? Kita harus bagaimana? Kamu ada Hendy dan aku ada Fitri.. kamu harus paham itu Kris..."

Mata Obi kembali menatapku dengan lekat.

"Aku sedang proses bercerai dengan mas Hendy..."

Jelasku lirih

"Bercerai? Ada apa? Apa demi aku kamu melakukan ini?"

Tanya Obi dengan mengernyitkan dahi tapi ada senyum kemenangan di sudut bibirnya.

"Tidak.. sudah banyak masalah diantara hubungan kami dan sekarang kesabaranku benar-benar habis.. pas sekali waktunya saat aku dekat denganmu tapi semua ini tidak ada hubungannya denganmu. Besok sidang terakhir pembacaan putusan hakim"
Jelasku lagi

"Besok putusan? Kamu tidak pernah cerita tentang ini padaku. "

Tanya Obi padaku

"Ini maslahku buat apa aku cerita? Aku hanya tidak ingin kamu malah mempengaruhi segala keputusanku"

Jelasku lagi

"Apa setelah bercerai kamu ingin aku menikahimu?"

Pertanyaan Obi menyentakku.

"Maumu bagimana? Apa kamu mau menikahiku dan menceraikan Fitri?"

Aku balik bertanya

"Anakku masih kecil-kecil Kris.. apa mungkin aku meninggalkan mereka?"

Jawabnya membuat dadaku semakin sesak

"Ah sudahlah.. aku sudah tahu maksudmu.. kamu hanya menginginkanku sebagai tempat senang-senang saja!"

Aku langsung berdiri dan segera beranjak pergi dari Resto Te Hila, tapi tangan kokoh Obi mencegahku dan membuatku duduk kembali ditempat semula.

"Bukan begitu Kris.. aku sayang kamu, aku cinta kamu .. aku akan segera menceraikan Fitri.. tunggulah bersabar ya sayang"

Obi kembali menggenggam tanganku membuat hatiku merasa pedih, kenapa? Kenapa aku harus kembali jatuh cinta padamu Bi? Kenapa aku dipertemukan lagi dengamu ketika waktu sudah sangat-sangat merubah kondisi kita?
Tak terasa air mataku meleleh.

"Sudahlah Kris jangan menangis, aku juga sedang berjuang untuk kita.. kamu paham kan.. kalau sampai Fitri tahu hubungan kita, kalau sampai keluargaku tahu aku kembali mejalin hubungan denganmu saat ini pasti mereka.. ah.. sudahlah!!! Aku hanya ingin kamu tahu aku tidak main-main Kris! Aku merasa menemukan cinta yang hilang dari hidupku selama ini setelah aku kembali bertemu denganmu!"

Nada bicara Obi penuh tekanan seolah-olah dia ingin meyakinkanku tentang kesungguhannya.

Setelah membayar semua makanan yang kami pesan dan hampir tidak kami habiskan, Obi mengajakku masuk ke dalam mobilnya.
Dia memacu mobilnya agak kencang menembus suasana sore Kota Jember dan aku hanya diam membisu dengan segala pikiran tidak menentu dalam hati.

Aku tersesat.. menuju hatimu... beri aku .. jalan yang indah.. 

Suara merdu Astrid dari CD player  mobil Obi memecahkan lamunanku.
Ah.. lagu ini benar-benar mewakili perasaanku, ada desir-desir nyilu dalam hatiku mendengarnya.

Sesekali Obi melirik ke arahku, suara azdan maghrib mulai tersengar berkumandang.
Obi menepikan mobilnya di sebuah masjid.

"Aku sholat dulu, kamu mau ikut sholat apa menunggu di sini?"

Obi turun dari mobil dan bergegas masuk ke dalam masjid.

"Tidak, aku menunggu di sini saja karena aku sedang datang bulan"
Jawabku .

Aku lihat Obi sudah bergabung dengan beberapa jamaah yang ada di masjid.
Hmm.. dia masih ingat sholat ketika kami sedang melakukan dosa, dosa karena menghianati rumah tangga kami masing-masing, dosa yang kami lakukan dengan penuh kesadaran. Ya Allah.. maafkan kami.

Mobil kembali melaju, Obi mengarahkan laju mobil ke jalanan menuju puncak rembangan. Suasana mulai terasa dingin dan hening, aku kembali terdiam sambil menikmati beberapa lagu melakolis yang sengaja Obi putar menemani perjalanan kami.

Kami sudah duduk di resto hotel Rembangan dengan memesan 2 cangkir kopi susu dan sepiring pisang bakar keju. Suasana sedikit ramai karena hari ini malam minggu dan pasti banyak muda mudi yang datang menghabiskan malam panjang di sini.

"Kris.. kamu mau menginap di sini apa pulang?"

Tanya Obi tiba-tiba padaku

"Terserah, aku sebenarnya juga lelah mau pulang kebetulan anak-anak sedang menginap dirumah ibu"
Jawabku pasrah.

"Kalau begitu aku akan menyewa kamar dulu ya"
Tanpa pikir panjang Obi melenggang ke arah lobby hotel Rembangan dan memesan sebuah kamar buat kami.

"Kamu sendiri bagaimana? Apa Fitri tidak mencarimu?"
Tanyaku pada Obi.

"Tidak, karena minggu ini aku ada jadwal pengawasan kantor cabang di kota Situbondo dan yang Fitri tahu aku masih di Situbondo karena pekerjaanku belum selesai"
Jelas Obi meyakinkanku.

"Aku ingin menghabiskan malamku bersamamu Kris.."
Lanjut Obi lagi

Kamipun segera masuk ke dalam kamar yang sudah Obi pesan.

"Bi.. aku sedang datang bulan..."
Kataku saat kulihat Obi merebahkan dirinya diatas ranjang.

"Sudahlah.. aku tahu dan kamu sudah mengatakan itu di masjid tadi dan aku kan sudah bilang aku ingin menghabiskan malam ini bersamamu.. kita bisa ngobrol atau apapun asalkan kita bersama
Dulu kita seringke sini kan.. sama dengan mereka yang seusia kita dulu, awal kita jadian disini awal aku ungkapkan perasaanku padamu juga disini.. kamu masih ingat kan Kris.."

Aku hanya mengangguk pelan mendengarkan suara Obi yang  berusaha menjelaskan padaku apa yang dia inginkan bersamaku saat ini dan membuatku merasa nyaman karena aku berpikir Obi menginginkan hal-hal yang lebih ketika kami menginap berdua disebuah kamar hotel.

*****
Mendengar detak jantung Obi didadanya yang bidang membuatku semakin merasa nyaman, dia rengkuh kepalaku disana membiarkanku menikmati hangat tubuhnya dan menikmati nafas hangatnya menyentuh kulit wajahku.
Aku tenggelam dalam rasa yang yang seolah-olah belum pernah aku rasakan bahkan dengan mas Hendy sekalipun.
Membuatku terlena dan lupa ada orang-orang disana yang kami sakiti.

"Kris...aku bahagia...aku ingin selamanya kita bisa seperti ini..."
Obi merengkuhkan dekapannya semakin erat ditubuhku.

"Aku merasa ini seperti mimpi Bie.."
Kataku lirih dan tiba-tiba aku merasakan ada air hangat membasahi dahiku yang menempel di dagu Obi.
Akupun mendongakkan wajahku kearah wajah Obi

"Bie.. kamu nangis?
Tanyaku pelan dan merubah posisiku duduk disampingnya menatapnya dan menyeka air matanya.

"Sudahlah.. aku terlalu bahagia.. sini..."
Obi menjawabnya sambil kembali menarikku kembali dalam dekapan tubuhnya

"Temani tidurku malam ini.. aku ingin bermimpi indah bersamamu"

Kami berduapun terlelap dalam buaian rindu yang seakan tak pernah ingin kami akhiri.

******
"Semoga semua berjalan lancar Kris.. aku pulang ya?"
Obi menurunkanku di halaman Pengadilan Agama.

"Oke.. Thank you for last night Bie.."
Jawabku tersenyum penuh kebahagiaan.

Hari ini adalah jadwal sidang terakhir gugatan ceraiku dengan mas Hendy, hari ini jadwal pembacaan putusan dari Hakim.

Selesai mandi dan sarapan di resto Hotel Rembangan tadi, Obi langsung mengantarku ke pengadilan Agama.

Aku melangkahkan langkahku dengan penuh keyakinan.

Didalam ruang sidang , aku lihat mas Hendy yang ditemani oleh pengacaranya tampak tertunduk lesu dia manatap ke arahku dengan penuh harap dan penyesalan. Mungkin mas Hendy heran melihat aku hanya datang sendirian tanpa ada yang mendampingi dan juga heran melihat ekspresiku yang penuh keyakinan tanpa rasa sedih sedikitpun

Selama persidangan biasanya aku memang ditemani oleh sahabatku dan aku memang sengaja maju sendiri tanpa pendampingan dari pengacara. Aku memang sudah bertekad menyelesaikan semua sendiri dengan berbekal bukti-bukti dan saksi yang sudah aku siapkan.

Sidang segera dimulai, aku memalingkan wajahku pelan dari tatapan mas Hendy, aku enggan menatap wajahnya lebih lama karena hanya akan membuatku semakin merasa sakit dan kecewa.

Alhamdulillah.. hakim memutuskan bahwa kami bercerai dan 2 anak kami dibawah asuhanku karena mereka masih mumayyis dan membutuhkan kasih sayang oenuh dari ibunya dengan memberikan ijin kepada mas Hendy membawa anak-anak saat libur sekolah.
Ketika bapak hakim menanyakan adakah keberatan dengan keputusan yang beliau bacakan? Aku menjawab tidak karena semua putusan baik tentang hak asuh anak, pembagian gono gini dan uang nafkah untuk anak-anakku sudah aku anggap sesuai semua. Karena yang aku pikirkan bukan itu tapi aku lebih berharap perpisahan ini cepat terlaksana dan anak-anak tetap bisa bersamaku ibunya.
Mas hendy pun hanya terdiam pasrah mendengar putusan yang dibacakan oleh bapak hakim.

"Maafkan semua kesalahanku ya mas jika selama aku menjadi istrimu tidak bisa sesempurna yang kamu harapakan.. aku hanya berusaha menjadi yang terbaik meskipun bagimu itu masih jauh dari harapanmu, setiap saat kamu boleh bertemu dengan anak-anak mas.. karena sampai kapanpun mereka tetap anak-anakmu.. semoga kamu bahagia dengan keluarga barumu.. salamku buat Any dan juga jaga baik-baik kandungan any ya..."
Aku menyalami mas Hendy sebelum keluar dari ruang sidang dan aku lihat dia tetunduk  menangis penuh penyesalan.

"Maafkan aku Kris.. maafkan aku... aku menyesal..."
Dia menjabat tanganku dengan erat dan aku melihat air matanya terus membanjiri wajahnya.

Sudah terlambat.. pikirku penuh rasa lega.
Akupun beranjak pergi meninggalkan mas Hendy yang tersimpuh diruang sidang, aku pergi dan tidak pernah ingin kembali menoleh ke belakang.

*******
Entahlah, meskipun ada perasaan lega menyelimuti hatiku setelah sidang putusan perceraian hari ini tapi ada sedikit sesak didada ketika aku membayangkan anak-anakku yang harus menerima kenyataan bahwa kedua orang tuanya berpisah bahwa mereka harus menjadi anak-anak broken home.
Apa yang harus aku katakan ketika nanti mereka bertanya "kenapa kita tidak lagi bersama bapak?" "Kenapa ibu dan bapak berpisah?"
Ah.. semakin remuk saja perasaan ini membayangkan mereka. Maafkan ibu ya nak..

"Pak.. tolong turunkan saya di GM plaza ya?"
Kataku pada sopir taksi online yang aku pesan untuk mengantarku pulang ke rumah orang tuaku

"Baik bu, saya tunggu apa turun disini?"
Tanya pak sopir lagi

"Tidak pak, turun disini saja.. saya ingin membeli sesuatu untuk anak-anak saya"

Setelah aku memberikan uang ongkos taksi dan berterimakasih, aku segera masuk ke dalam plaza dan bergegas menuju food cort

Aku meilih-milih banyak makanan, jajanan juga apapun yang biasa anakku suka, tidak terasa keranjang troli sudah penuh belanjaan.
Aku seperti kalap, aku berharap perasaan tidak menentu pasca perceraian ini menghilang setelah aku berbelanja tapi nyatanya tidak, aku masih membayangkan wajah-wajah anakku yang harus menerima kenyataan kedua orang tuanya berpisah.
Ya Allah.. apa ini tandanya aku menyesal?
Ah tidak.. aku bahagia bisa terlepas dari mas Hendy yang selalu membuatku kecewa dan aku tidak mungkin tetap bertahan dengannya.
Lalu ini perasaan apa?? Kenapa tiba-tiba perasaan menekan dalam hati ini terus saja mendesak ulu hatiku? Wajah-wajah anak-anakku pun silih berganti lekat dalam pikiranku.
Apakah ini perasaan bersalah pada anak-anakku?
Aku terus menapaki lorong-lorong food cort dan terdiam sejenak mendengar suara dibalik rak jajanan.

"Abi aku mau ini yaa..."
Terdengar suara anak kecil merajuk manja dan aku langsung membayangkan itu anak-anakku.

"Iya boleh, tapi tanya umi dulu ya? Boleh ngga adek makan ini"
Deg.. suara itu, suara dari seseorang yang dipanggil abi oleh anak kecil itu aku kenal sekali.

"Umi.. boleh ya? "
Suara anak itu terdengar memohon manja

"Iya boleehh.. sana pilih-pilih lagi sama abi sekalian buat kak Fauzi dirumah ya.. umi gak bisa bantu ini kan umi lagi gendong adik Abil"
Suara lembut seorang wanita terdengar menjawab penuh kesabaran pada anak kecil itu.

Tidak sabar rasanya aku ingin segera melihat mereka dibalik rak tempatku berdiri.
Akupun mendorong keranjang troliku dan berjalan ke arah suara-suara mereka.

Aku lihat Obi disana bersama seorang anak kecil dan dengan seorang wanita yang aku ingat betul pernah aku lihat di profil WA Obi. Ya itu Fitri istrinya.
Aku tersentak, melihat wanita itu sedang menggendong bayi umur 9 bulanan.
Mereka tampak begitu bahagia, melihat mereka bukan rasa cemburu membabi buta yang aku rasakan tapi seluruh badanku terasa bergetar.. Ya Allah.. aku merasa bersalah dan berdosa sekali. Berdosa ada diantara kebahgiaan mereka.

Aku lihat mereka berjalan membelakangiku, Obi menggendong anak kecil itu dan menggandeng mesra istrinya.

Aku segera berlalu dan berusaha menghindar agar Obi tidak melihatku.
Brak.. kerjanjang troli yang aku dorong tergesa-gesa ternyata tanpa sengaja menabrak susunan kotak susu yang tertata ditengah koridor.

Sontak Obi dan istrinya menoleh ke arahku karena kaget dengan suara robohnya kotak-kotak susu itu.

Akupun segera jongkok memunguti kotak-kota susu itu dibantu beberpa pramuniaga yang kebetulan sedang jaga disitu.

"Kamu disini kris..."
Tiba-tiba Obi sudah menemaniku jongkok memunguti kotak-kotak susu yang berserakan.

"Eh...iya, aku sengaja belanja utuk anak-anak sebelum pulang"
Jawabku gugup dan aku lihat diujung sana istri Obi yang menggendong bayi berdiri dengan anak kecil itu menatap ke arah kami.

"Bagaimana hasil sidang putusan hari ini? Aku belum sempat menayakan padamu karena aku tidak ingin memganggumu..."

Obi bertanya sambil ikut membantuku menata kembali kotak-kotak susu yang berserakan dilantai.

"Alhamdulillah.. kami resmi bercerai"
Jawabku agak gugup

"Alhamdulillah.. akhirnya!
Itu anak-anakku dan Fitri.. aku bilang ke mereka mau membantu ibu yang menjatuhkan kotak-kotak susu.. jangan khawatir ya..dan  maafkan aku..tadi Zidane merengek minta jalan-jalan setelah seminggu aku keluar kota dia kangen jalan-jalan sama Abi katanya jadi aku ajak Zidane ke sini dan Fitri ingin ikut jadi aku tidak bisa menolaknya "

Kulihat mata Obi berbinar bahagia mendengar jawabanku tetang perceraianku dengan mas Hendy dan Obi berusaha menjelaskan padaku panjang lebar seolah-olah ingin meyakinkanku bahwa dia sedang tidak ingin membuatku kecewa meskipun dia bersama istri dan anak-anaknya.

"Sudahlah.. aku tidak apa-apa.. aku juga baik-baik saja.. kembalilah pada mereka kasihan mereka menunggumu"
Aku memerintahkan Obi segera pergi setelah kotak terakhir berhasil aku kembalikan ke tempat semula.

Akupun segera berlalu dan menuju arah kasir untuk segera membayar semua belanjaanku.
Aku lihat Obi masih menatap kepergianku.

********
"Ibu pulang.. "
Bagas dan adit berlari menyambut kedatangaku

"Sini sayang.. mama mau masak masakkan yang enak buat kalian"
Kataku sambil memeluk erat mereka.
Rasanya kali ini sungguh berbeda, aku memeluk mereka dengan perasaan penuh kelu seperti orang yang baru datang dari peperangan membawa kekalahan.

"Asyiikk.. nanti makan bareng bapak ya.. kenapa ibu pulang tidak sama bapak? Apa nanti kita pulang kerumah bu?"
Pertanyaan Adit anak bungsuku sungguh menusuk hati, apa yang harus aku katakan?
Selama ada masalah dengan rumah tangga kami memang kami sepakat untuk tetap menunjukkan sikap biasa kepada anak-anak agar mereka tidak ikut larut dalam masalah kami orang tuanya.

"Ayo anak-anak, ibu pasti capek baru datang..."
Ibuku yang paham dengan masalah yang sedang aku hadapi segera meleburkan suasana dalam hatiku yang masih terasa sesak dan beku.

"Ayo nek.. masaknya sama nenek juga ya?"
Anak-anakku segera mengambil plastik belanjaan yang aku pegang dan membawanya ke arah dapur dengan suka cita.

"Sudahlah nduk, kamu istirahat dulu ya.. biar anak-anak aku temani"
Suara lembut ibu begitu menghiburku

"Ibuu.. "
Aku memeluk ibu erat-erat, aku menangis dalam pelukannya suaraku tak sanggup lagi aku keluarkan hanya air mata yang terus membanjiri pipiku.

"Sudahlah nduk yang sabar, jangan sampai anak-anakmu melihatmu menangis..  itu sudah menjadi keputusanmu jadi kamu harus menerima semuanya dan menjalaninya dengan ikhlas"
Ibu membelai rambutku dan membawaku ke dalam kamarnya

Aku lihat bapak hanya menatapku dari sudut kamar dan segera keluar untuk memberikan waktu aku berbincang dengan ibu atau mungkin bapak segera menemani anak-anakku agar mereka tidak melihatku dalam suasana sedih.

"Aku lega bu.. rasanya beban beratku dengan mas Hendy telah lepas.. tapi bagaimana dengan anak-anak? Aku merasa bersalah dengan mereka bu"
Tangisku semakin tak terbendung.

" sabar nduk.. ibu paham apa yang kamu rasakan, seiring berjalannya waktu mereka akan mengerti apa yang sedang kamu hadapi, tetaplah menjadi kuat untuk mereka"
Ah.. suara ibu yang begitu lembut benar-benar bisa menjadi pelipur laraku membuatku semakin yakin untuk tetap tegap dan tegar  menghadapi semuanya.

 ********
[Kris.. kamu kenapa beberapa hari ini tidak bisa dihubungi? Aku kangen .. apa kamu marah padaku setelah pertemuan kita minggu lalu di GM plaza?]
Chat WA Obi langsung masuk ke gawaiku begitu aku mengkatifkan kembali poselku setelah beberapa hari sengaja aku off kan.

[Tidak Bie.. aku juga kangen..kangen sekali.. tapi aku sedang berusaha menenangkan diri dari semua masalahku dan berusaha berpikir lebih baik tentang hubungan kita]
Jawabku

[Aku sudah mengutarakan maksudku menceraikan Fitri .. dia menangis Kris.. tapi biarlah nanti dia juga akan mengerti seiring berjalannya waktu.. aku ingin sekali bertemu denganmu]
Deg.. tulisan Obi kali ini membuatku terasa sesak. Aku membayangkan bagaimana jika aku berada di posisi Fitri dan bagaiamana juga dengan ketiga anak-anaknya?

[Sabar Bie.. jangan sekarang, aku belum ingin bertemu dengan siapapun saat ini]
Jawabku lagi

Telepon langsung berdering dan aku lihat panggilan dari nomer Obi.

"Ya Bie.. "
Jawabku datar

"Kris.. please aku ingin sekali bertemu denganmu, ayolah sayang..apa perlu aku datang kerumahmu"
Kudengar suara Obi penuh mengiba disana.

"Jangan Bie.. belum saatnya kamu datang kerumahku, jaga perasaan orang tuaku dan anak-anakku"
Jawabku

"Tapi kalau kamu terus menghindariku, aku tidak peduli! Aku akan kerumahmu sekarang juga"
Suara Obi semakin penuh emosi.

*********
"Kenapa kamu menolak aku jemput?"
Obi menggenggam tanganku erat-erat ketika kami akhirnya bertemu kembali di resto hotel Rembangan tempat yang aku minta untuk kami bertemu.

"Sekalian aku mengantar anak-anak bertemu bapaknya hari ini week end jadwal mereka bersama bapaknya jadi sekalian aku membawa mobil sendiri"

Jelasku sambil tersenyum, senyum yang sebenarnya aku buat dengan penuh perjuangan agar Obi tidak melihatku sedang sangat sedih. Sedih karena aku merasa begitu mencintai orang yang salah.

"Kan aku bisa mengantar kalian Kris.."
Kata Obi lagi dengan tatapannya yang begitu hangat dan selalu menghiasi setiap lamunanku. Mata yang masih sama indahnya seperti saat aku pertama mengenalnya dan membuatku jatuh cinta

"Sudahlah Bie.. yang penting kita sudah ada disini"
Kataku lagi sambil membalas genggaman tangannya.

"Bie.. lihat ya tangan ini.. nanti.. beberapa tahun lagi.. tangan ini akan penuh keriput karena menua dimakan usia.."
Aku tatap mata Obi dalam-dalam

"Aku akan tetap menggammu sampai akhir usia kita Kris.."
Obi mencium tanganku

"Aku juga berharap akan terus seperti ini Bie.. tapi itu nanti.. jika Tuhan mengijinkan jika salah satu orang yang mendampingi kita pergi mendahului kita dan jika Tuhan menghendaki justru kita yang pergi terlebih dahulu dari orang yang mendampingi kita berarti cinta ini akan kita bawa sampai mati"
Kataku lagi.

"Tapi kamu sendiri Kris.. tidak ada seseorang yang mendampingimu dan akupun akan segera menceraikan Fitri"
Obi menepis kata-kataku

"Iya.. aku memang sendiri tapi tidak dengan kamu Bie.. ada Fitri yang selalu menemanimu mengasuh anak-anakmu membesarkan buah hati kalian penuh cinta.. pikirkan itu Bie.. tegakah kamu menghianti Fitri?"
Aku berusaha melepas genggaman tangan Obi

"Kris.. kita sudah berjuang sejauh ini.. aku mencintai kamu.. apa kamu tidak mencintai aku?"
Tanyanya dengan tatapan mata yang tajam

"Aku mencintaimu Bie.. sangat..! Bahkan ketika kamu meninggalkan aku, rasa ini tidak pernah pergi.. tapi aku juga wanita yang pernah merasakan kecewa ketika dihianati"
Aku berusaha menjelaskan perasanku yang pasti juga Fitri rasakan.

"Maksudmu apa Kris.."
Suara Obi terdengar lemah

"Aku ingin.. kamu tetap bersama Fitri.. aku berharap tetaplah menjadi suami paling tidak ayah yang sempurna untuk anak-anakmu Bie.. kita tidak boleh egois.. aku sayang kamu Bie.. aku sayang juga dengan anak-anakmu makanya aku tidak ingin menyakiti hati mereka dan aku paham benar bagaimana posisiku sebagai Fitri"
Kali ini air mataku benar-benar meleleh memohon pengertian Obi

"Kris.. jangan buat aku seperti ini.. aku hancur Kris... kamu menyakiti perasaanku"
Aku lihat Obi mulai menangis. Rasanya hatiku bagai disayat sembilu melihat orang yang aku cintai menangis didepanku tapinaku harus kuat aku tidak boleh egois aku tidak boleh menyakiti sekeping hati yang dengan tulus mendampingi Obi selama ini.

"Aku juga hancur Bie.. aku juga sakit.. bukan kamu saja yang merasakan tapi aku juga.. kamu harus paham.. aku tidak mau hidup bersamamu dengan menyimpan perasaan berdosa dan bersalah pada Fitri dan anak-anakmu.. ingat Bie.. Allah akan murka kalau kita teruskan semua ini"
Air mataku mulai mengering, mengiringi ketegeranku yang sudah aku tekadkan demi yang terbaik untuk kami

"Bie.. maafkan aku.. maafkan untuk semua cinta ini.. aku pamit ya.. semua pasti akan baik-baik saja.. bersabarlah sampai Tuhan benar-benar mengijinkan kita bersama atau tidak sama sekali"
Aku peluk tubuh Obi untuk terakhir kalinya walaupun sebenarnya aku berharap tubuh ini masih ingin selalu aku peluk tapi aku sadar aku salah, aku berdosa jika semua ini kami lanjutkan
Obipun memeluk erat tubuhku dan tidak mau melepaskannya.

Suasana mulai merambah sepi, orang-orang di dalam resto Hotel rembangan mulai hening, ada yang pulang ada pula yang mungkin beranjak masuk ke kamar hotel.
Kami masih berdua disini.. menikmati suasana malam yang semakin dingin.

Akupun melepas pelukan Obi dari tubuhku, wajahnya tampak kuyu dan penuh putus asa.

"Ayo kita pulang Bie.. kamu harus tetap bangun esok hari demi aku ya?"
Kataku untuk meyakinkan dia akan baik-baik saja setelah aku tinggalkan.

Kulihat Obi hanya terdiam menatapku dengan tatapan penuh rasa sesal dan kecewa dan itu semakin menyakiti perasaanku.

"Kamu yakin aku akan baik-baik saja setelah semua ini kris? You my shiny.. i won't life without you shiny..."
Tanya obi padaku dia benar-benar mulai putus asa wajahnyapun mulai memucat.

Aku kembali kearahnya dan kembali nemeluknya erat-erat

"Kamu akan baik-baik saja demi aku Bie.. berjanjilah! And I will be your shiny forever.. don't worry .."
Bisikku ditelinganya memberikan harapan.

Aku lepaskan tubuh Obi dari pelukanku diiringi tatapan mata Obi yang penuh dengan ketidak ihklas nelepaskan aku pergi ,tatapan mata yang penuh rasa kecewa.

Tapi aku yakin dia akan kuat, dia pasti bisa karena aku tahu cinta dan kebahagiaan yang ada dalam rumah tangganya akan mampu membuatnya bangkit kembali.
Ya.. aku yakin rumah tangga mereka pasti indah dan penuh kebahagiaan selama ini, hanya aku saja yang sudah jahat masuk dalam kehidupan mereka.

Aku segera berlalu dari hadapan Obi, kulajukan mobilku menuruni kelok-kelok jalanan puncak Rembangan menuju arah pulang.

Aku hancur.. kuterluka.. engkaulah nafasku.. kau cintaku meski aku bukan dibenakku lagi ... dan ku beruntung sempat memilikimu...

Lagu Yovie & Nuno menemaniku sepanjang pejalanan pulang dengan tidak berhenti air mata ini mengalir

Terimakasih ya Allah aku bisa melewati semua ini.. maafkan hambamu yang penuh salah dan dosa ini.

Hanya itu yang sepanjang jalan aku ucapkan dalam hati. Sembil terus berusaha menghapus bayangan Obi dalam pikiranku walaupun itu tidak mudah dan pasti akan selalu ada bayangan wajahnya disetiap sudut ruang hatiku selamanya..

Jember, 10 Juli 2020


Minggu, 12 Juli 2020

Pondok Pesantren dengan kalimat "SUDAH BIASA"


*Itu sih "SUDAH BIASA" kalau di Pondok Pesantren*

Mohon maaf, jika tulisan ini tidak berkenan dan tidak ada niat saya menyinggung atau menilai buruk sebuah Pondok Pesantren, ini saya tulis hanya untuk berbagi pengalaman pribadi dari adik saya .. ☺️🙏

*
Ada telepon masuk di ponselku dari nomer tidak dikenal.

"Assallamu alaikum.. ya ini dari siapa?"

Tanyaku pada si penelepon

"Wa alaikumsallam ibu.. ini aku Yuni"

Kudengar suara manja anakku di seberang sana

"Oalah.. ada apa nduk kok kamu telepon?"

Jawabku agak terkejut, karena baru seminggu yang lalu aku antar Yuni anak bontotku ke Pondok pesantren

Sesuai keinginan Yuni, dia ingin  masuk Pondok Pesantren setelah lulus SD sambil melanjutkan Madrasah di sana bersama teman-teman sekolah semasa SD.
Akupun mengijikan dan tentunya sangat senang mengetahui niat Yuni karena tanpa aku harus memintanya dia sudah ada keinginanan untuk menimba ilmu dunia & ilmu agama sekaligus.

 Sebagai single parent tentu aku sangat bahagia dan bangga sekali karena aku juga berharap anak-anakku memiliki bekal ilmu agama yang lebih baik daripada kedua orang tuanya.

Banyak orang tua lainnya yang menginginkan anaknya masuk Pondok Pesantren harus memaksakan dengan segala cara sementara anakku dengan keinginan sendiri meminta melanjutkan sekolahbdi Pondok Pesantren.

***
Yuni dan teman-temannya memilih salah satu Pondok Pesantren wanita di kota sebelah yang nota bene adalah salah satu pondok pesantren  terbesar dan memiliki nama.

Tahun pelajaran baru sudah segera di mulai bahkan lebih awal dari sekolah-sekolah umum lainnya.
Sesuai peraturan di Pondok Pesantren tersebut , di masa pandemi ini tahun ajaran baru tetap dimulai dengan melakukan prosedur sesuai protokol yang berlaku, sebelum berangkat santri wajib melakukan rapid tes dan sesampianya di Pesantren para santri dilarang membawa HP ataupun dijenguk dan jika ada kepentingan mendesak santri boleh menelepon keluarganya di wartel yang sudah disediakan oleh pihak Pondok Pesantren.
Karenanya aku terkejut mendengar suara Yuni di seberang sana, ada apa?

"Ibu.. aku kirimin lagi baju singlet dan celana dalam ya, yang kemaren tinggal 3 yang lain hilang waktu di jemur"

Kata Yuni terdengar resah

"Oalah nak.. kok bisa hilang? Dijemur dimana? Apa kebawa angin waktu menjemur? Tidak kamu pakain hanger ya?"

Kataku bertanya heran karena sebelum berangkat aku membawakan masing-masing 1 lusin celana dalam dan kaos singlet juga beberapa keperluan lainnya selengkap mungkin.

"Sudah bu, tapi tinggal hangernya saja. Yuni jemur di balkon kalaupun ada angin pasti jatuhnya ke bawah lantai tidak mungkin kemana-mana karena ada tembok tinggi di sekililingnya, katanya sih emang sudah biasa ada jemuran yang hilang"

Jelas Yuni.

"Ya sudah nduk, hari Jumat ibu kirimi lagi ya.."

Jawabku memastikan agar Yuni tidak khawatir,sambil sedikit melongo mendengar kata "sudah biasa"

"Iya bu.. terimakasih...assallamu alaikum..."

Yunipun menutup sambungan telepon

"Wa alaikumsallam..."

Jawabku.

Hari jumat pagi, aku sudah bersiap-siap berangkat ke Pondok Pesantren tempat Yuni menimba ilmu diantar anak Sulungku Raka.
Kebetulan hari ini dia tidak ada kegiatan dikampus selama masa pandemi ini.

Sesampai di Pondok Pesantren aku disambut petugas wanita yang langsung menodongku dengan termo gun kemudian mempersilahkan aku  masuk ke bilik semprot disinfektan, kemudian cuci tangan dengan handsanitiser & langsung menuju ruang khusus untuk pelayanan wali santri, disana kami disambut dengan baik oleh sepertinya santri-santri senior yang diberi tugas piket untuk menerima tamu karena aku lihat mereka mengenakan seragam sekolah, sementara aku tolah toleh mencari penanggung jawab atau ustadz/ustadzah tapi tidak tampak sama sekali

"Assallamu alaikum ibu.. ada yang bisa saya bantu?"

Salah satu santriwati menyapaku dengan ramah

"Wa alaikumsallam.. maaf mba saya ingin bertemu dengan anak saya, kemaren dia menelepon katanya minta dikirimi pakaian dalam"

Jelasku.

"Oh.. mari silahkan bu, putri ibu siapa, kelas berapa dan tinggal di blok apa?"

Tanya santriwati itu lagi

"Namanya Yunita Herawati.. kelas 1 MTs tinggal di blok Siti Aisyah"

Jelasku padanya

"Baiklah bu, sini barangnya nanti saya serahkan kepada putri ibu, kami mohon maaf bahwa para santriwati sementara dilarang menerima kunjungan selama masa Pendemi ini"

Jelasnya lagi

"Kalau begitu ini mba barang-barangnya.. Titip salam saya buat Yuni..  Oh ya kalau boleh tahu dimana ya penanggung jawab atau ustadz dan ustazdah nya? Saya mau  ketemu.."

Aku bertanya pada santriwati itu karena ada hal yang ingin aku tanyakan terkait hilangnya pakaian dalam anakku yang menurutku ini bukan hal sepele karena kejadiannya ada di sebuah Pondok Pesantren yang kita tahu adalah tempat pendidikan dengan dasar agama yang baik apalagi Pondok Pesantren ini merupakan salah satu Pondok Pesantren yang lumayan punya nama. Kalimat "memang sering" yang diucapkan Yuni saat meneleponku kemarwn rasanya kok janggal ya..

"Maaf bu, ustazd dan ustadzahnya sedang ada rapat di ruang meeting. Apa ada sesuatu yang bisa saya akan sampaikan pada beliau nanti?"

Jawab santriwati itu.

"Ya sudah tidak usah biar nanti saya langsung hubungi via WA saja, terimakasih ya mba.. Assallamunalaikum..."

Akupun segera berpamitan pulang

"Baiklah bu.. Wa alaikumsallam.. "
jawabnya.

****
Setiap minggu tepat setiap hari jumat adalah waktunya kunjungan bagi wali santri.
Namu selama masa pandemi ini para santri tidak diperkenankan bertemu dengan orang lain dari luar Pondok Pesantren termasuk keluarganya, jadi jika ada wali santri yang mengirim makanan, barang atau uang pasti mereka hanya bisa menititpkan pada petugas.

Mengingat jarak dan waktu juga toko sembako tempatku usahaku satu-satunya tempatku mencari nafkah dan menghidupi kedua anakku yang sulit aku tinggalkan karena memang selama ini aku sendirian yang mengelola semenjak suamiku meninggal tanpa ada yang membantu.

Hampir setiap hari Jumat akupun hanya bisa menitipkan beberapa kebutuhan Yuni kepada tetangga dekat rumah, namanya bu Dadang yang kebetulan anaknya juga mondok di Pesantren yang sama dengan anakku dan bu Dadang ini sangat rajin sekali setiap hari Jumat berkunjung ke pondok pesantren diantar suaminya untuk mengirimkan sekedar makanan ataupun uang.

Alhamdulillah, aku bersyukur bisa menitipkan keperluan anakku kepada mereka & berharap semoga kemandirian Yuni semakin ditempa dan tidak manja selama disana. Walaupun dalam hati aku merasa sangat kangen dan kehilangan karena Yuni selama ini tidak pernah terpisah dariku.

*****
Ada telepon masuk lagi di HPku, selama Yuni berada fi Pondok Pesantren memang HP tidak pernah jauh-jauh dariku apalagi jika ada telepon masuk dari nomer tidak dikenal, aku takut kalau-kalau Yuni yang menelepon dan membutuhkan apa-apa dariku.

"Assallamu alaikum.. ibu.. ini Yuni.. hehee"

Terdengar suara Yuni yang selalu aku rindukan ada di seberang sana.

"Wa alaikumsallam.. Iya nduk, gimana kabarmu sehat? Kerasan kamu nduk di Pondok? Sudah makan belum?"

Tanyaku bahagia

"Sudah bu.. alhamdulillah Yuni sehat dan kerasan di pondok Pesantren.. teman-teman Yuni baik-baik"

Jawabnya sumringah

"Alhamdulillah.. sukurlah nduk.. ada yang kamu butuhkan lagi? Apa nduk?? biar ibu kirim"

Tanyaku sebelum Yuni meminta aku sudah menayakan apa yang dia butuhkan.

"Hehe.. iya bu, aku minta dikirimi pakaian dalam lagi sekarang tinggal 4 bu.. sama bawakan obat salep untuk jamur kulit dan obat kutu rambut nanti titipkan bu dadang lagi ya bu?"

Jelasnya dengan nada agak malu-malu tapi tanpa ada nada keresahan seperti awal dulu Yuni meneleponku.

"Hah.. hilang lagi nduk? Trs obat-obat itu buat siapa? Buat kamu nduk?"

Tanyaku heran

"Iya bu.. wkt dijemur.. sudah biasa..hilang lagi hehee . Kalau obat-obatan buat temanku bu, kasihan orang tuanya jauh di Jakarta kalau nunggu pengiriman paket kelamaan keburu tambah banyak jamur kulit sama kutunya"
Jelasnya lagi.

"Oalah nduk.. ya.. ya sudah nanti biar ibu sendiri yang antar sama mas Raka"

Jawabku dan kemudian Yuni menutup telepon setelah mengucap salam

*****
Pas sekali waktunya, sehari setelah Yuni menelepon adalah hari Jumat hari untuk wali santri bwrkunjung.
Aku segera menutup toko dan meminta Raka memgantarku membawa semua keperluan yang dibutuhkan Yuni di Pondok.
Selama di perjalanan aku mendengar suara ponselku berbunyi bebrapa kali tapi aku tidak mengangkatnya karena dengan dibonceng motor tentunya susah menerima telepon dan aku memutuskan untuk menerimanya atau setelah sampai tujuan.

Begitu sampai Pondok Pesantren aku lupa dengan ponselku, karena aku segera menuju ruang pelayanan wali santri dan setelah  melewati beberapa protokol wajib akupun sampai di ruang pelayanan eali santri.

Disana lagi-lagi aku disambut ramah oleh  beberapa Santri senior yang bertugas dan kali ini aku lihat wajah-wajah yang berbeda dari beberapa minggu yang lalu aku ke sini.

"Assallamu alaikum ibu.. ada yang bisa kami bantu"

Sambut mereka ramah

"Wa alaikumsallam.. ini dik, saya mau mengantar pesananan anak saya Yunita Herawati kelas 1 MTs kamarnya di blok Siti Aisyah"

Kali ini jawabnku sudah lengkap sebelum ditanya nama, kelas dan blok kamar Yuni.

"Oh.. ibu Yuni? Mari silahkan masuk bu, dari tadi memang kami menelepon tapi tidak ada respon"

Jelas santriwati itu

"Oh.. ya.. mungkin waktu saya dalam perjalanan tadi. Ada apa ya kok menelepon? Kebetulan saya memang janji dengan anak saya mau kirim barang ke Pondok buat Yuni"

Tanyaku sedikit heran

"Mari bu.. masuk ke ruang kesehatan.. Yuni semalam badannya panas, tapi dokter sudah memberinya obat katanya ada radang tenggorokan"

Jelasnya lagi

"Yuni sakit?"

Aku terkejut dan sedikit mempercepat langkahku ingin segera sampai ke ruang kesehatan yang dimaksud.

Di ruang kesehatan aku lihat Yuni tergeletak lemah, wajahnya sedikit pucat.

"Oalah nduk, apa yang kamu rasakan? Kamu pulang ya nak kalau sakit.. nanti kalau sudah sembuh kembali lagi"

Kataku sambil membelai rambut Yuni.
Mungkin dia kaget tidak terbiasa jauh dariku dan akhirnya sakit.

"Iya bu.. badan Yuni lemes badannya panas tapi rasanya dingin"

Jawabnya lirih

"Kok kamu tidak pakai jaket yang ibu bawakan nduk?"

Tanyaku heran karena dia hanya memakai gamis tipis

"Jaketnya hilang bu waktu selesai aku cuci belum sempat dijemur keburu hilang karena waktu itu aku terburu-buru ada jadwal tarbiyah siang jadi tidak sempat aku jemur aku tinggal di ember tempat mencuci"

Jelasnya lagi dengan nada menyesal.

Waduh.. hilang lagi.. kok selalu saja hilang sih, pikirku terheran-heran.
Tapi aku tidak berani bertanya-tanya lagi, takut membuat Yuni yang sedang sakit tambah kepikiran.

"Raka, kamu jaga adik kamu ya? Ibu mau minta ijin sama ustazdah untuk membawa pulang Yuni dan merawatnya di rumah selama sakit"

Pintaku pada Raka yang sedari tadi membuntutiku tapi asyik dengan ponselnya.

"Iya bu.. "

Jawab raka sambil meletakkan ponsel yang dia pegang ke dalam saku bajunya.

Aku sudah di ruang kepala penanggung jawab kamar blok Siti Aisyah untuk meminta ijin kepada ustazdahnya yang bernama ustazdah Ninin untuk membawa pulang Yuni.

"Monggo ibu kalau Yuni mau diajak pulang dulu,
mohon maaf nggih, semalam kami sudah mendatangkan dokter untuk penanganan pertama dan alhamdulillah suhu badan Yuni sudah tidak panas lagi hanya dia masih lemah dan butuh recovery.
Kalau yuni mau tetap di rawat disini sampai pulih juga boleh, tapi jika ibu menginginkan Yuni mendapat perawatan lebih intensif di rumah juga monggo & nanti jika kondisi sudah membaik boleh kembali ke pondok lagi, tapi dengan 1 syarat sebelum kembali Yuni harus menjalani rapid tes lagi"
Jelas ustazdah Ninin dengan ramah

"Iya ustazdah Yuni saya bawa pulang dulu saja, biar saya tidak khawatir. Terimakasih banyak untuk semua pelayanan dan kebaikan buat putri kami..
oh ya ustazdah.. kalau boleh tanya.. "

Kataku penuh rasa terimakasih, tapi ingin menanyakan sesuatu.

"Iya monggo ibu mau tanya apa? Mungkin ada yang bisa kami bantu?"
Jawab ustazdah Ninin lagi

"Begini ustazdah.. ini selama Yuni mondok di sini kok sering kehilangan pakaian dalam ya? Selama di sini hampir 2 bulan saya sudah mengirim celana dalam dan kaos dalam sebanyak 2 lusin, hari ini saya tanyakan juga tinggal sisa celana dalam 5 dan kaos dalam 6..dan lagi jaket yang baru saya belikan juga hilang di tempat mencuci, kalau hilang kan berarti ada yang mengambil dengan sengaja dan itu tentu perbuatan yang sangat dilarang agama apalagi ini di pondok ustazdah.. kok bisa ya?"

Tanyaku pada ustazdah Ninin berharap mendapat solusi dan kejadian seperti ini tidak terulang lagi.

"Hmmm.. iya bu, kejadian seperti ini sudah biasa terjadi... dari dulu juga sudah sering terjadi, saking banyaknya santri membuat kami kesulitan mengambil tindakan jadi karena itulah kami selalu memberikan nasehat untuk berbuat jujur & untuk saling berhati-hati dalam menjaga barang masing-masing misal dengan menyimpan di lemari dan menguncinya ketika ada tugas atau juga memberi nama pada masing-masing barang agar jika tertukar atau keikut dengan barang-barang temannya ketahuan, sekali lagi maaf atas ketidak nyamanan ini"

Jelas ustazdah Ninin

Sementara aku melongo, hah.. sudah biasa?? What's wrong? Ini juga jawaban dari penanggung jawabnya begini. hanya menasehati?
Tidak adakah tindakan atau sidak apa kek? Supaya ketemu siapa yang mengambil dan bisa diberikan sangsi agar kejadian-kejadian seperti ini tidak diulangi lagi.

Ah.. sudahlah.. karena pikiranku yang masih pada sakit Yuni, maka aku tidak memperpanjang lagi pertanyaan itu.
Akupun segera berpamitan pulang setelah mendapat kendaraan sewa dibantu pihak Pondok untuk aku dan Yuni pulang kerumah, sementara Raka naik motor sendirian.

******
Beberapa hari dirumah kondisi Yuni sudah semakin baik, walau sempat kaget ketika aku menyeka tubuhnya. Memang selama sakit aku benar-benar merwat Yuni dengan sangat hati-hati agar dia cepat pulih dari masa recovery.
Aku kaget ketikan melihat ada panu di beberapa bagian tubuh anakku dan juga ketika menyisir rambutnya ada kutu di rambutnya sehingga akupun harus meluangkan waktu ekstra untuk mengobati panu dan membersihkan kutu di rambutnya dengan obat-obatan yang di resepkan dokter tempat Yuni kontrol.

"Nduk, kamu di pondok rajin mandi dan keramas to? Kok sampe kutuan dan ada panu begini?"

Tanyaku sambil menyisir rambut anakku yang mulai bersih dari kutu juga kulitnya yang sudah mulai mulus lagi tanpa panu.

"Mandi lah buu.. rajin aku mandi juga keramas meskipun harus mengantri dulu"

Jawabnya sambil tersenyum

"Kok bisa ya? Apa teman-temanmu juga banyak yang kena penyakit panu dan rambutnya berkutu? Makanya pakaian, handuk jangan barengan biar gk ketularan"

Kataku menasehati.

"Engga bu, pakaian handuk sendiri-sendiri tapi kan emang banyak teman-teman aku yang awal masuk kena penyakit kulit panu sama ada kutu rambut.. itu sudah biasa. Katanya kalau sudah ada panu sama kutu di rambut itu baru benar-benar jadi anak pondok, nanti juga hilang-hilang sendiri makanya banyak yang sedia obat kutu sama obat jamur kulit di kamar"
Jelasnya tanpa beban

"Hah... sudah biasa?? Baru disebut anak pondok kalau sudah ada panu sama kutu rambut?? Kata siapa??? Apa kejadian seperti ini ada disemua pondok pesantren apa hanya di pondok pesantren tempatmu tinggal nduk???"

Aku terkaget-kaget mendengar penjelasan Yuni.

"Iya bu.. gak usah kaget gitu lah.. itu kata kakak-kakak tingkat yang sudah lebih lama disana.. nanti juga kalau sudah tahu seluk beluknya semua aman-aman saja"

Kata dengan santainya.

"hayuk bu, aku udah kangen teman-teman di pondok besok aku pengen balik lagi kesana.. kangen ngaji, sholat dhuha, tahajut, mendengarkan kajian dari pak kyai dan juga bimbingan dari ustazdah bareng teman-teman.. kangen juga berbagi makanan kalau pas ada teman yang dapat kiriman haha..
kalau di pondok pesantren lain sama apa engga tentang jemuran hilang, kutu rambut & panu Yuni ga tahu bu.. hehee"
Yuni menjawab dengan mata menyipit karena tawanya.


Oalah nduukkk... jemuran hilang sudah biasa, panuan sudah biasa, ada kutu rambut juga sudah biasa.. malah itu tandanya sudah benar-benar jadi anak pondok. Bener-bener mak mu ini tepok jidat.

Tapi kamu terlihat bahagia nduk, dan aku lihat selama beberapa hari dirumah kamu semakin rajin sholat, semakin rajin mengaji dan sikap sopan santunmu semakin baik. Alhamdulillah nak.. semoga kamu menjadi anak sholehah kebanggan ibu dengan mendapat ilmu agama yang baik di Pondok Pesantren.

Masalah pakaian dalam hilang , biar aku siapkan stok banyak dirumah aku akan berusaha lebih keras lagi bekerja untuk memenuhi kebutuhanmu selama di Pondok.
Untuk kutu rambut dan panu akan aku siapkan semuanya untuk menangkalnya.
Bener mungkin ya kata ustazdah Ninin.. santri harus pandai-pandai menjaga masing-masing harta pribadinya juga dirinya.

Yang penting kamu bahagia nduk dan yang paling utama kamu mendapatkan ilmu agama yang bisa jadi tabunganmu kelak untuk menjadi pribadi yang dimuliakan Allah.

Haduh.. tetep saja aku geleng-geleng kepala.. sambil memasukkan pakaian dan celana dalam, obat-obatan juga beberapa makanan kedalam dus yang akan dibawa Yuni kembali Ke pondok pesantren .. 😅😅

Masih belajar, mohon maaf jika tulisan saya masih belepotan 😅🙏 mohon krisannya agar saya belajar lebih baik lagi menulis..