Uni-uni

Langit mendung tapi tidak hujan ketika aku tulis ini, sambil menikmati dinginnya semilir angin dan memandang lepas keluar ruangan "subhanallah, begitu besar berkah dan barokah yang telah Allah buat dalam hidup ini"
kadang muncul, kadang tenggelam mentari pagi ini.

Aku, namaku Kris. Seorang istri dan ibu dari 2 orang anakku,sedang belajar menulis sambil menikmati hidup


Minggu, 12 Juli 2020

Pondok Pesantren dengan kalimat "SUDAH BIASA"


*Itu sih "SUDAH BIASA" kalau di Pondok Pesantren*

Mohon maaf, jika tulisan ini tidak berkenan dan tidak ada niat saya menyinggung atau menilai buruk sebuah Pondok Pesantren, ini saya tulis hanya untuk berbagi pengalaman pribadi dari adik saya .. ☺️🙏

*
Ada telepon masuk di ponselku dari nomer tidak dikenal.

"Assallamu alaikum.. ya ini dari siapa?"

Tanyaku pada si penelepon

"Wa alaikumsallam ibu.. ini aku Yuni"

Kudengar suara manja anakku di seberang sana

"Oalah.. ada apa nduk kok kamu telepon?"

Jawabku agak terkejut, karena baru seminggu yang lalu aku antar Yuni anak bontotku ke Pondok pesantren

Sesuai keinginan Yuni, dia ingin  masuk Pondok Pesantren setelah lulus SD sambil melanjutkan Madrasah di sana bersama teman-teman sekolah semasa SD.
Akupun mengijikan dan tentunya sangat senang mengetahui niat Yuni karena tanpa aku harus memintanya dia sudah ada keinginanan untuk menimba ilmu dunia & ilmu agama sekaligus.

 Sebagai single parent tentu aku sangat bahagia dan bangga sekali karena aku juga berharap anak-anakku memiliki bekal ilmu agama yang lebih baik daripada kedua orang tuanya.

Banyak orang tua lainnya yang menginginkan anaknya masuk Pondok Pesantren harus memaksakan dengan segala cara sementara anakku dengan keinginan sendiri meminta melanjutkan sekolahbdi Pondok Pesantren.

***
Yuni dan teman-temannya memilih salah satu Pondok Pesantren wanita di kota sebelah yang nota bene adalah salah satu pondok pesantren  terbesar dan memiliki nama.

Tahun pelajaran baru sudah segera di mulai bahkan lebih awal dari sekolah-sekolah umum lainnya.
Sesuai peraturan di Pondok Pesantren tersebut , di masa pandemi ini tahun ajaran baru tetap dimulai dengan melakukan prosedur sesuai protokol yang berlaku, sebelum berangkat santri wajib melakukan rapid tes dan sesampianya di Pesantren para santri dilarang membawa HP ataupun dijenguk dan jika ada kepentingan mendesak santri boleh menelepon keluarganya di wartel yang sudah disediakan oleh pihak Pondok Pesantren.
Karenanya aku terkejut mendengar suara Yuni di seberang sana, ada apa?

"Ibu.. aku kirimin lagi baju singlet dan celana dalam ya, yang kemaren tinggal 3 yang lain hilang waktu di jemur"

Kata Yuni terdengar resah

"Oalah nak.. kok bisa hilang? Dijemur dimana? Apa kebawa angin waktu menjemur? Tidak kamu pakain hanger ya?"

Kataku bertanya heran karena sebelum berangkat aku membawakan masing-masing 1 lusin celana dalam dan kaos singlet juga beberapa keperluan lainnya selengkap mungkin.

"Sudah bu, tapi tinggal hangernya saja. Yuni jemur di balkon kalaupun ada angin pasti jatuhnya ke bawah lantai tidak mungkin kemana-mana karena ada tembok tinggi di sekililingnya, katanya sih emang sudah biasa ada jemuran yang hilang"

Jelas Yuni.

"Ya sudah nduk, hari Jumat ibu kirimi lagi ya.."

Jawabku memastikan agar Yuni tidak khawatir,sambil sedikit melongo mendengar kata "sudah biasa"

"Iya bu.. terimakasih...assallamu alaikum..."

Yunipun menutup sambungan telepon

"Wa alaikumsallam..."

Jawabku.

Hari jumat pagi, aku sudah bersiap-siap berangkat ke Pondok Pesantren tempat Yuni menimba ilmu diantar anak Sulungku Raka.
Kebetulan hari ini dia tidak ada kegiatan dikampus selama masa pandemi ini.

Sesampai di Pondok Pesantren aku disambut petugas wanita yang langsung menodongku dengan termo gun kemudian mempersilahkan aku  masuk ke bilik semprot disinfektan, kemudian cuci tangan dengan handsanitiser & langsung menuju ruang khusus untuk pelayanan wali santri, disana kami disambut dengan baik oleh sepertinya santri-santri senior yang diberi tugas piket untuk menerima tamu karena aku lihat mereka mengenakan seragam sekolah, sementara aku tolah toleh mencari penanggung jawab atau ustadz/ustadzah tapi tidak tampak sama sekali

"Assallamu alaikum ibu.. ada yang bisa saya bantu?"

Salah satu santriwati menyapaku dengan ramah

"Wa alaikumsallam.. maaf mba saya ingin bertemu dengan anak saya, kemaren dia menelepon katanya minta dikirimi pakaian dalam"

Jelasku.

"Oh.. mari silahkan bu, putri ibu siapa, kelas berapa dan tinggal di blok apa?"

Tanya santriwati itu lagi

"Namanya Yunita Herawati.. kelas 1 MTs tinggal di blok Siti Aisyah"

Jelasku padanya

"Baiklah bu, sini barangnya nanti saya serahkan kepada putri ibu, kami mohon maaf bahwa para santriwati sementara dilarang menerima kunjungan selama masa Pendemi ini"

Jelasnya lagi

"Kalau begitu ini mba barang-barangnya.. Titip salam saya buat Yuni..  Oh ya kalau boleh tahu dimana ya penanggung jawab atau ustadz dan ustazdah nya? Saya mau  ketemu.."

Aku bertanya pada santriwati itu karena ada hal yang ingin aku tanyakan terkait hilangnya pakaian dalam anakku yang menurutku ini bukan hal sepele karena kejadiannya ada di sebuah Pondok Pesantren yang kita tahu adalah tempat pendidikan dengan dasar agama yang baik apalagi Pondok Pesantren ini merupakan salah satu Pondok Pesantren yang lumayan punya nama. Kalimat "memang sering" yang diucapkan Yuni saat meneleponku kemarwn rasanya kok janggal ya..

"Maaf bu, ustazd dan ustadzahnya sedang ada rapat di ruang meeting. Apa ada sesuatu yang bisa saya akan sampaikan pada beliau nanti?"

Jawab santriwati itu.

"Ya sudah tidak usah biar nanti saya langsung hubungi via WA saja, terimakasih ya mba.. Assallamunalaikum..."

Akupun segera berpamitan pulang

"Baiklah bu.. Wa alaikumsallam.. "
jawabnya.

****
Setiap minggu tepat setiap hari jumat adalah waktunya kunjungan bagi wali santri.
Namu selama masa pandemi ini para santri tidak diperkenankan bertemu dengan orang lain dari luar Pondok Pesantren termasuk keluarganya, jadi jika ada wali santri yang mengirim makanan, barang atau uang pasti mereka hanya bisa menititpkan pada petugas.

Mengingat jarak dan waktu juga toko sembako tempatku usahaku satu-satunya tempatku mencari nafkah dan menghidupi kedua anakku yang sulit aku tinggalkan karena memang selama ini aku sendirian yang mengelola semenjak suamiku meninggal tanpa ada yang membantu.

Hampir setiap hari Jumat akupun hanya bisa menitipkan beberapa kebutuhan Yuni kepada tetangga dekat rumah, namanya bu Dadang yang kebetulan anaknya juga mondok di Pesantren yang sama dengan anakku dan bu Dadang ini sangat rajin sekali setiap hari Jumat berkunjung ke pondok pesantren diantar suaminya untuk mengirimkan sekedar makanan ataupun uang.

Alhamdulillah, aku bersyukur bisa menitipkan keperluan anakku kepada mereka & berharap semoga kemandirian Yuni semakin ditempa dan tidak manja selama disana. Walaupun dalam hati aku merasa sangat kangen dan kehilangan karena Yuni selama ini tidak pernah terpisah dariku.

*****
Ada telepon masuk lagi di HPku, selama Yuni berada fi Pondok Pesantren memang HP tidak pernah jauh-jauh dariku apalagi jika ada telepon masuk dari nomer tidak dikenal, aku takut kalau-kalau Yuni yang menelepon dan membutuhkan apa-apa dariku.

"Assallamu alaikum.. ibu.. ini Yuni.. hehee"

Terdengar suara Yuni yang selalu aku rindukan ada di seberang sana.

"Wa alaikumsallam.. Iya nduk, gimana kabarmu sehat? Kerasan kamu nduk di Pondok? Sudah makan belum?"

Tanyaku bahagia

"Sudah bu.. alhamdulillah Yuni sehat dan kerasan di pondok Pesantren.. teman-teman Yuni baik-baik"

Jawabnya sumringah

"Alhamdulillah.. sukurlah nduk.. ada yang kamu butuhkan lagi? Apa nduk?? biar ibu kirim"

Tanyaku sebelum Yuni meminta aku sudah menayakan apa yang dia butuhkan.

"Hehe.. iya bu, aku minta dikirimi pakaian dalam lagi sekarang tinggal 4 bu.. sama bawakan obat salep untuk jamur kulit dan obat kutu rambut nanti titipkan bu dadang lagi ya bu?"

Jelasnya dengan nada agak malu-malu tapi tanpa ada nada keresahan seperti awal dulu Yuni meneleponku.

"Hah.. hilang lagi nduk? Trs obat-obat itu buat siapa? Buat kamu nduk?"

Tanyaku heran

"Iya bu.. wkt dijemur.. sudah biasa..hilang lagi hehee . Kalau obat-obatan buat temanku bu, kasihan orang tuanya jauh di Jakarta kalau nunggu pengiriman paket kelamaan keburu tambah banyak jamur kulit sama kutunya"
Jelasnya lagi.

"Oalah nduk.. ya.. ya sudah nanti biar ibu sendiri yang antar sama mas Raka"

Jawabku dan kemudian Yuni menutup telepon setelah mengucap salam

*****
Pas sekali waktunya, sehari setelah Yuni menelepon adalah hari Jumat hari untuk wali santri bwrkunjung.
Aku segera menutup toko dan meminta Raka memgantarku membawa semua keperluan yang dibutuhkan Yuni di Pondok.
Selama di perjalanan aku mendengar suara ponselku berbunyi bebrapa kali tapi aku tidak mengangkatnya karena dengan dibonceng motor tentunya susah menerima telepon dan aku memutuskan untuk menerimanya atau setelah sampai tujuan.

Begitu sampai Pondok Pesantren aku lupa dengan ponselku, karena aku segera menuju ruang pelayanan wali santri dan setelah  melewati beberapa protokol wajib akupun sampai di ruang pelayanan eali santri.

Disana lagi-lagi aku disambut ramah oleh  beberapa Santri senior yang bertugas dan kali ini aku lihat wajah-wajah yang berbeda dari beberapa minggu yang lalu aku ke sini.

"Assallamu alaikum ibu.. ada yang bisa kami bantu"

Sambut mereka ramah

"Wa alaikumsallam.. ini dik, saya mau mengantar pesananan anak saya Yunita Herawati kelas 1 MTs kamarnya di blok Siti Aisyah"

Kali ini jawabnku sudah lengkap sebelum ditanya nama, kelas dan blok kamar Yuni.

"Oh.. ibu Yuni? Mari silahkan masuk bu, dari tadi memang kami menelepon tapi tidak ada respon"

Jelas santriwati itu

"Oh.. ya.. mungkin waktu saya dalam perjalanan tadi. Ada apa ya kok menelepon? Kebetulan saya memang janji dengan anak saya mau kirim barang ke Pondok buat Yuni"

Tanyaku sedikit heran

"Mari bu.. masuk ke ruang kesehatan.. Yuni semalam badannya panas, tapi dokter sudah memberinya obat katanya ada radang tenggorokan"

Jelasnya lagi

"Yuni sakit?"

Aku terkejut dan sedikit mempercepat langkahku ingin segera sampai ke ruang kesehatan yang dimaksud.

Di ruang kesehatan aku lihat Yuni tergeletak lemah, wajahnya sedikit pucat.

"Oalah nduk, apa yang kamu rasakan? Kamu pulang ya nak kalau sakit.. nanti kalau sudah sembuh kembali lagi"

Kataku sambil membelai rambut Yuni.
Mungkin dia kaget tidak terbiasa jauh dariku dan akhirnya sakit.

"Iya bu.. badan Yuni lemes badannya panas tapi rasanya dingin"

Jawabnya lirih

"Kok kamu tidak pakai jaket yang ibu bawakan nduk?"

Tanyaku heran karena dia hanya memakai gamis tipis

"Jaketnya hilang bu waktu selesai aku cuci belum sempat dijemur keburu hilang karena waktu itu aku terburu-buru ada jadwal tarbiyah siang jadi tidak sempat aku jemur aku tinggal di ember tempat mencuci"

Jelasnya lagi dengan nada menyesal.

Waduh.. hilang lagi.. kok selalu saja hilang sih, pikirku terheran-heran.
Tapi aku tidak berani bertanya-tanya lagi, takut membuat Yuni yang sedang sakit tambah kepikiran.

"Raka, kamu jaga adik kamu ya? Ibu mau minta ijin sama ustazdah untuk membawa pulang Yuni dan merawatnya di rumah selama sakit"

Pintaku pada Raka yang sedari tadi membuntutiku tapi asyik dengan ponselnya.

"Iya bu.. "

Jawab raka sambil meletakkan ponsel yang dia pegang ke dalam saku bajunya.

Aku sudah di ruang kepala penanggung jawab kamar blok Siti Aisyah untuk meminta ijin kepada ustazdahnya yang bernama ustazdah Ninin untuk membawa pulang Yuni.

"Monggo ibu kalau Yuni mau diajak pulang dulu,
mohon maaf nggih, semalam kami sudah mendatangkan dokter untuk penanganan pertama dan alhamdulillah suhu badan Yuni sudah tidak panas lagi hanya dia masih lemah dan butuh recovery.
Kalau yuni mau tetap di rawat disini sampai pulih juga boleh, tapi jika ibu menginginkan Yuni mendapat perawatan lebih intensif di rumah juga monggo & nanti jika kondisi sudah membaik boleh kembali ke pondok lagi, tapi dengan 1 syarat sebelum kembali Yuni harus menjalani rapid tes lagi"
Jelas ustazdah Ninin dengan ramah

"Iya ustazdah Yuni saya bawa pulang dulu saja, biar saya tidak khawatir. Terimakasih banyak untuk semua pelayanan dan kebaikan buat putri kami..
oh ya ustazdah.. kalau boleh tanya.. "

Kataku penuh rasa terimakasih, tapi ingin menanyakan sesuatu.

"Iya monggo ibu mau tanya apa? Mungkin ada yang bisa kami bantu?"
Jawab ustazdah Ninin lagi

"Begini ustazdah.. ini selama Yuni mondok di sini kok sering kehilangan pakaian dalam ya? Selama di sini hampir 2 bulan saya sudah mengirim celana dalam dan kaos dalam sebanyak 2 lusin, hari ini saya tanyakan juga tinggal sisa celana dalam 5 dan kaos dalam 6..dan lagi jaket yang baru saya belikan juga hilang di tempat mencuci, kalau hilang kan berarti ada yang mengambil dengan sengaja dan itu tentu perbuatan yang sangat dilarang agama apalagi ini di pondok ustazdah.. kok bisa ya?"

Tanyaku pada ustazdah Ninin berharap mendapat solusi dan kejadian seperti ini tidak terulang lagi.

"Hmmm.. iya bu, kejadian seperti ini sudah biasa terjadi... dari dulu juga sudah sering terjadi, saking banyaknya santri membuat kami kesulitan mengambil tindakan jadi karena itulah kami selalu memberikan nasehat untuk berbuat jujur & untuk saling berhati-hati dalam menjaga barang masing-masing misal dengan menyimpan di lemari dan menguncinya ketika ada tugas atau juga memberi nama pada masing-masing barang agar jika tertukar atau keikut dengan barang-barang temannya ketahuan, sekali lagi maaf atas ketidak nyamanan ini"

Jelas ustazdah Ninin

Sementara aku melongo, hah.. sudah biasa?? What's wrong? Ini juga jawaban dari penanggung jawabnya begini. hanya menasehati?
Tidak adakah tindakan atau sidak apa kek? Supaya ketemu siapa yang mengambil dan bisa diberikan sangsi agar kejadian-kejadian seperti ini tidak diulangi lagi.

Ah.. sudahlah.. karena pikiranku yang masih pada sakit Yuni, maka aku tidak memperpanjang lagi pertanyaan itu.
Akupun segera berpamitan pulang setelah mendapat kendaraan sewa dibantu pihak Pondok untuk aku dan Yuni pulang kerumah, sementara Raka naik motor sendirian.

******
Beberapa hari dirumah kondisi Yuni sudah semakin baik, walau sempat kaget ketika aku menyeka tubuhnya. Memang selama sakit aku benar-benar merwat Yuni dengan sangat hati-hati agar dia cepat pulih dari masa recovery.
Aku kaget ketikan melihat ada panu di beberapa bagian tubuh anakku dan juga ketika menyisir rambutnya ada kutu di rambutnya sehingga akupun harus meluangkan waktu ekstra untuk mengobati panu dan membersihkan kutu di rambutnya dengan obat-obatan yang di resepkan dokter tempat Yuni kontrol.

"Nduk, kamu di pondok rajin mandi dan keramas to? Kok sampe kutuan dan ada panu begini?"

Tanyaku sambil menyisir rambut anakku yang mulai bersih dari kutu juga kulitnya yang sudah mulai mulus lagi tanpa panu.

"Mandi lah buu.. rajin aku mandi juga keramas meskipun harus mengantri dulu"

Jawabnya sambil tersenyum

"Kok bisa ya? Apa teman-temanmu juga banyak yang kena penyakit panu dan rambutnya berkutu? Makanya pakaian, handuk jangan barengan biar gk ketularan"

Kataku menasehati.

"Engga bu, pakaian handuk sendiri-sendiri tapi kan emang banyak teman-teman aku yang awal masuk kena penyakit kulit panu sama ada kutu rambut.. itu sudah biasa. Katanya kalau sudah ada panu sama kutu di rambut itu baru benar-benar jadi anak pondok, nanti juga hilang-hilang sendiri makanya banyak yang sedia obat kutu sama obat jamur kulit di kamar"
Jelasnya tanpa beban

"Hah... sudah biasa?? Baru disebut anak pondok kalau sudah ada panu sama kutu rambut?? Kata siapa??? Apa kejadian seperti ini ada disemua pondok pesantren apa hanya di pondok pesantren tempatmu tinggal nduk???"

Aku terkaget-kaget mendengar penjelasan Yuni.

"Iya bu.. gak usah kaget gitu lah.. itu kata kakak-kakak tingkat yang sudah lebih lama disana.. nanti juga kalau sudah tahu seluk beluknya semua aman-aman saja"

Kata dengan santainya.

"hayuk bu, aku udah kangen teman-teman di pondok besok aku pengen balik lagi kesana.. kangen ngaji, sholat dhuha, tahajut, mendengarkan kajian dari pak kyai dan juga bimbingan dari ustazdah bareng teman-teman.. kangen juga berbagi makanan kalau pas ada teman yang dapat kiriman haha..
kalau di pondok pesantren lain sama apa engga tentang jemuran hilang, kutu rambut & panu Yuni ga tahu bu.. hehee"
Yuni menjawab dengan mata menyipit karena tawanya.


Oalah nduukkk... jemuran hilang sudah biasa, panuan sudah biasa, ada kutu rambut juga sudah biasa.. malah itu tandanya sudah benar-benar jadi anak pondok. Bener-bener mak mu ini tepok jidat.

Tapi kamu terlihat bahagia nduk, dan aku lihat selama beberapa hari dirumah kamu semakin rajin sholat, semakin rajin mengaji dan sikap sopan santunmu semakin baik. Alhamdulillah nak.. semoga kamu menjadi anak sholehah kebanggan ibu dengan mendapat ilmu agama yang baik di Pondok Pesantren.

Masalah pakaian dalam hilang , biar aku siapkan stok banyak dirumah aku akan berusaha lebih keras lagi bekerja untuk memenuhi kebutuhanmu selama di Pondok.
Untuk kutu rambut dan panu akan aku siapkan semuanya untuk menangkalnya.
Bener mungkin ya kata ustazdah Ninin.. santri harus pandai-pandai menjaga masing-masing harta pribadinya juga dirinya.

Yang penting kamu bahagia nduk dan yang paling utama kamu mendapatkan ilmu agama yang bisa jadi tabunganmu kelak untuk menjadi pribadi yang dimuliakan Allah.

Haduh.. tetep saja aku geleng-geleng kepala.. sambil memasukkan pakaian dan celana dalam, obat-obatan juga beberapa makanan kedalam dus yang akan dibawa Yuni kembali Ke pondok pesantren .. 😅😅

Masih belajar, mohon maaf jika tulisan saya masih belepotan 😅🙏 mohon krisannya agar saya belajar lebih baik lagi menulis..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar